Potensi SMK Mulai Dilirik

Kepiawaian siswa sekolah menengah kejuruan atau SMK bidang tata kecantikan menyulap para model, antara lain dengan potongan rambut trendi dan dandanan body painting yang mencolok, mampu menyedot perhatian masyarakat di arena exhibition hall, Celebes Convention Center, Makassar, pekan lalu.

Kelihaian siswa yang berkompetisi dalam Lomba Keterampilan Siswa SMK Tingkat Nasional 2008 melakukan kerja, bak penata rambut dan perias profesional itu, hanyalah sebagian kecil dari kompetensi spesifik yang bisa dipelajari di SMK.

Keahlian itu bisa didapatkan sembari siswa menyelesaikan pendidikan menengah di SMK jurusan tata kecantikan, dengan pilihan kompetensi tata rambut dan tata kulit. Mereka yang berminat mengembangkan diri di bidang kecantikan sudah ada saluran dalam pendidikan formal.

Akan tetapi, yang sering terjadi, siswa justru lebih memilih pendidikan di SMA. Setelah tamat, mereka melanjutkan kursus kecantikan yang ditawarkan salon-salon ternama bagi para lulusan SMA yang belum bekerja.

“Dari dulu saya senang bidang kecantikan. Saya tahu di SMK ada sekolahnya, ya saya milih ini. Setelah lulus bisa langsung kerja Ada rencana melanjutkan pendidikan untuk lebih memperdalam keahlian,” tutur Fitri Widianti (18), siswa SMKN 2 Batunya, Sumatera Selatan, yang ikut lomba tata rambut

Selama pendidikan. Fitri sudah tidak asing dengan salon-salon yang menjalin kerja sama dengan sekolahnya. Dengan kreativitasnya. Fitri rajin ikut lomba Alhasil, gadis yang baru lulus ini sudah kebanjiran tawaran kerja

Tinggal ditimbang-timbang mana yang baik. Untuk buka salon sendiri juga sebenarnya bisa karena sudah pernah diajari praktik bisnis salon sendiri. Tetapi, masih bingung nih mau milih yang mana,” ujar Fitri.,

Di tengah SMK yang sedang naik daun pada tingkat pendidikan menengah di Indonesia harus diakui, belum semua SMK mampu menyiapkan lulusan yang adaptif dengan dunia kerja Perusahaan-perusahaan dan industri mengeluhkan sulitnya mendapat teknisi tingkat menengah sesuai standar. Padahal, peluang kerja terbuka di dalam dan luar negeri.

yang tidak terpenuhi karena lulusan yang ada belum mampu mencapai koni|je-tensi yang dibutuhkan.

Kenyataan menunjukkan tingginya ketimpangan kualitas pendidikan di Indonesia, termasuk di SMK. Tidak semua SMK benar- benar mampu menyediakan bengkel atau laboratorium kerja yang layak dan modern atau membangun kerja sama kuat dengan dunia kerja.

Guru-guru SMK juga seringkali ketinggalan dalam meng-update keahlian agar sesuai dengan perkembangan zaman. Banyak pendidikan SMK dijalankan asal- asalan yang akhirnya hanya menghasilkan lulusan tanpa kompetensi memadai.

Fokus kompetensi

Dengan penyiapan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja, ditambah kreativitas dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, potensi SMK untuk menghasilkan teknisi tingkat menengah dengan bidang spesifik sebenarnya mulai dilirik masyarakat dan industri. Wacana membuat SMK mampu mendukung industri manufaktur dan jasa serta perkantoran dijawab dengan mulai dibenahinya kualitas dan jumlah SMK.

Dalam Lomba Keterampilan Siswa SMK ke-16 ini, dilombakan 50 bidang kompetensi. Sebanyak 38 kompetensi memenuhi standar internasional dan sisanya berstandar nasional.

Potensi keahlian SMK sangat beragam. Di bidang teknologi in-formasi dan komunikasi, antara lain, ada aplikasi software, desain web, animasi, dan teknologi informasi pendukung jaringan; di bidang pertanian ada teknologi pengolahan pascapanen dan agronomi atau produksi tanaman, peternakan, dan perikanan; di bidang kerajinan ada pembuatan keramik, perhiasan, kerajinan kulit, dan kerajinan kayu; dan di bidang bisnis manajemen ada akuntansi, pemasaran, industri pariwisata, pekerja sosial, dan restoran.

Wardiman Djojonegoro, mantan Mendiknas yang dikenal dengan konsep pendidikan link and match, menilai, kebijakan pemerintah mendorong tumbuhnya SMK sudah tepat “Pendidikan di SMK yang berorientasi ijazah harus diubah mengejar kompetensi. Maka, sekolah perlu tahu standar luar. Artinya, sekolah harus membangun kerja sama dengan banyak pihak lain, terutama industri dalam arti luas,” ujarnya.

Pendidikan yang mampu menghasilkan tenaga terampil tingkat menengah itu butuh layanan pembelajaran yang tidak berjarak dengan dunia kerja yang sedang berkembang di masyarakat Lulusannya harus siap berkompetisi secara global.

“Pemerintah juga punya tanggung jawab untuk terus meluaskan lapangan kerja sehingga lulusan SMK ini bisa terserap dunia kerja,” tutur Wardiman.

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan, pada 2015 ditargetkan SMK men-capai 70 persen. Jika ini tercapai, percepatan pertumbuhan sumber daya manusia (SDM) tingkat menengah yang siap kerja, cerdas, dan kompetitif akan mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi. Terobosan untuk meningkatkan mutu SMK agar menghasilkan lulusan berdaya saing tinggi dan memiliki relevansi dengan dunia kerja harus terus dilakukan untuk meraih kepercayaan masyarakat pada SMK yang selama ini dipandang sebelah mata.

Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Joko Sutrisno mengatakan, pembenahan SMK ini perlu didukung peningkatan pengetahuan ilmu-ilmu dasar. “Siswa SMK sering dinilai lemah dalam pengetahuan. Ini perlu diperbaiki. Meski orientasi-i nya menyiapkan lulusan siap kerja, kita juga mesti I membuat mereka bisa ma-I suk perguruan tinggi,” ka-i tanya.

Dalam pandangan Ari Setiawan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Mesin Perkakas Indonesia, pendidikan menengah kejuruan yang sedang berkembang bisa dimanfaatkan untuk mendukung tumbuhnya industri di dalam negeri. Pengembangan SMK perlu diarahkan untuk bisa memiliki unit produksi yang mampu menghasilkan produk sesuai standar industri.

Kebijakan memajukan SMK juga butuh sinergi antardepartemen. Tak bisa lagi seperti selama ini, pendidikan selalu berjarak dengan kebutuhan masyarakat dan negara yang berakibat dunia pendidikan menghasilkan SDM yang tidak relevan dengan kondisi di luar sekolah. “Industri sekarang sudah mulai menyadari potensi dari SMK,” kata Ari.

Christianto Lopulisa. dosen Universitas Hasanuddin, mengingatkan agar pengembangan SMK mampu menghidupkan kekuatan industri pertanian di dalam negeri. Dengan mengembangkan SMK yang mampu membangun budaya wirausaha pertanian, peluang ekonomi bidang pertanian yang mencapai Rp 1.125 triliun bisa bermanfaat untuk ekonomi bangsa.

Pengembangan SMK yang gencar dilakukan pemerintan diharapkan bisa membuka masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Kuncinya, komitmen pemerintah menyediakan pendidikan kejuruan yang berkualitas dan sejalan dengan pengembangan kehidupan negara.

Sumber : http://www.sfeduresearch.org

Komentar ditutup.