Manefestasi gerakan tarbiyah dalam sikap Muhammadiyah

Oleh : Abu hafez
Beberapa hari yang lalu, saya membeli sebuah buku berjudul “Manifestasi Gerakan Tarbiyah; Bagaimana Sikap Muhammadiyah?” Buku tipis yang di tulis oleh Bapak Haedar Nashir. Setelah saya baca tuntas buku tersebut. Saya merasakan ada sifat paranoid Bapak Haedar Nashir terhadap gerakan Tarbiyah. Sikap ini dilandasi oleh banyaknya kader-kader Muhammadiyah yang sudah terpengaruh terhadap gerakan ini (red; Tarbiyah).

Dalam penjelasan di buku tersebut. Tarbiyah merupakan bentuk atau model pembelajaran yang dilakukan oleh Ikhawanul Muslimin. Jadi relefansi gerakan tarbiyah yang dikomandoi oleh Partai Keadilan Sejahtera, merupakan afiliasi dari gerakan Ikhawanul Muslimin yang ada di Mesir. Dan beberapa hal yang lainnya. Mungkin kita kupas sedikit dari tulisan Bapak Haedar Nashir.

Ada sebuah kerisauhan yang terlihat dari terbitnya makalah yang dibukukan tersebut. Contohnya, ketika anak Bapak Haidar Nashir mengadu ke pada beliau tentang banyaknya kawan-kawan di SMAnya yang terlibat kelompok “Harakah” menunjukkan fanatisme sikap keagamaan yang berlebihan. Hingga sampai ada kata-kata “kurang Islami” atau “tidak Islami”. Satu hal yang mungkin kita harus garis bawahi, bahwa kadang saat-saat kita berada dilinkungan atau masih menjadi seorang pelajar ataupun mahasiswa. Sifat idealisme kita kadang memang berlebihan, dan terlihat mencolok sehingga terlihat tidak akhsan di mata masyarakat. Hingga masyarakat membuat kesimpulan sendiri tentang apa yang mereka lihat tanpa mempelajari sebab perkataan atau perbuatan itu muncul!

Mungkin kita perlu kembali tersadar tentang prinsip gerakan umat Islam. Saya masih ingat sekali seorang guru fiqih saya, waktu saya masih sekolah di SMU Muhammadiyah. Bahwa semua umat Islam itu bersaudara, setiap umat Islam yang tersakiti dibelahan bumi yang lainnya. Maka umat Islam yang lainnya pun akan ikut tersakiti. Jadi Islam adalah agama pemersatu manusia.

Saya jadi merasa skeptis dengan tulisan Bapak Haedar Nashir tersebut. Bukan karena apa yang beliau tulis, sikap skeptis saya. Tapi lebih karena kecenderungan “PKS (Partai Keadilan Sejahtera)” diposisikan sebagai tertuduh. Jadi lebih karena ada permasalahan yang membuat kader Muhammadiyah eksodus ke harakah atau gerakan Islam lainnya, sehingga PKS lebih diposisikan sebagai virus yang membuat kader-kader Muhammadiyah sudah tidak loyal lagi terhadap Muhammadiyah. Mungkin kita harus ingat, bahwa banyak sekali kader Muhammadiyah yang berada di partai-partai, termasuk di Partai Keadilan Sejahtera. Namun yang membuat kader-kader Muhammadiyah merasa enjoy disebuah partai adalah karena kesamaan visi dan misi kader-kader Muhamamdiyah tersebut dengan partai yang di senanginya. Contoh saja, PAN. Banyak sekali kader-kader Muhammadiyah yang juga tidak bisa memposisikan diri antara Muhammadiyah dan PAN. Jadi terasa seperti meMuhammadiyahkan PAN atau memPANkan Muhammadiyah. Atau bisa juga ke PBB, PKS, PPP (biasanya golongan-golongan tua yang berada dipartai tersebut).

Didalam kader PKS, ada sebuah hal yang memang menjadi kewajiban seorang kader saat berada di Partai tersebut. Seperti halnya mengaji yang biasanya di sebut Liqo’ (berkumpul). Seperti halnya juga di PAN, atau partai manapun pasti mempunyai sebuah kewajiban yang harus dipenuhi kadernya. Kalau kita mau berpikir jujur, dan mau perpikir jernih. Sesungguhnya mana ada sebuah partai yang mengadakan setiap minggunya (minimal) mereka harus mengkaji Al Qur’an atau memuhasabbah diri untuk menjadi sorang muslim yang benar-benar menjalankan apa yang diturunkan oleh Allah. Walaupun kadang ada beberapa yang tidak bisa dipenuhi semua!

Kita harus jeli melihat persoalan tersebut. Jangan hanya merasa bahwa sesuatu yang baru membuat aturan yang lama menjadi berubah total. Tarbiyah yang dipahami didalam Partai Keadilan Sejahtera, merupakan sifat yang lebih cenderung membuat orang untuk bisa mengetahui kebenaran dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Tidak ada sama sekali sesuatu yang menyimpang didalam pemahaman Tarbiyah yang dilakukan oleh PKS. Ketika umat Islam sudah tertarbiyah dengan baik, maka sesungguhnya mereka akan bisa melihat sendiri apa yang terbaik yang akan dia lakukan. Termasuk dalam memilih Partai. Yang dimaksud memilih partai yang Islam adalah partai yang memang memperjuangkan Islam, bukan harus memilih PKS sebagai jalan utama yang harus dipilih. Bahkan disetiap kajian yang saya ikuti, tidak pernah kita disuruh untuk mengikuti PKS, tapi lebih dimaksudkan untuk membandingkan partai-partai yang ada. Dan itu relefan untuk seorang manusia yang harus memilih dan melihat latar belakang sebuah partai dalam pembentukan masyarakat.

Isu-isu yang berkembang di masyarakat Muhammadiyah adalah seperti apa yang dikatakan oleh beliau (Bapak Haedar Nashir). Yaitu, seperti halnya kader PKS yang mengikuti Tahlilan, atau kader PKS yang mengikuti Yasinan, seperti halnya juga Kader PKS yang melakukan Ruqyah. Sekali lagi Bapak Haedar Nashir tidak memposisikan PKS itu sebuah partai yang majemuk. Tapi lebih terlihat sebuah madzab, jadi PKS identik dengan madzab baru yang membolehkan hal-hal seperti diatas, padahal kegiatan tersebut bid’ah menurut pandangan Muhammadiyah.

Kita harus tahu, bahwa PKS adalah sebuah partai yang majemuk. Didalamnya terdapat orang-orang NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, dll. Kemajemukan tersebut adalah wajib bagi sebuah partai. Mungkin kita bisa melihat Fatwa-Fatwa Dewan Syariah PKS. Jelas sekali, bahwa didalam fatwa-fatwa tersebut tidak mencantumkan boleh tidaknya seorang kader untuk bertahlilan, tetapi lebih didasarkan mashalat dan aturan tahlilan. Bahkan jika kita tidak mampu merubah tradisi tahlilan maka kita tidak diperbolehkan hadir didalam tahlilan orang yang meninggal. Perlu diketahui, tahlilan ada dua macam. Tahlilan pekanan yang tidak ada hubungannya dengan kematian, juga tahlilan kematian. Tahlilan pekanan masih ditolerir hadir, namun jika tahlilan kematian. Kita dilarang untuk makan dari orang yang dilanda musibah tersebut. Bahkan larangan hadir di acara tersebut jika memang tidka bisa memberikan kemaslajatam. Didalam tubuh PKS sendiri, mempunyai banyak macam madzab, selama masih ada dalilnya. Maka tidak perlu di perdebatkan. Namun untuk ruqyah, perlu diketahui PAN juga pernah melakukan kegiatan ruqyah. Dan ruqyah dalilnya sangat jelas!

Boleh saya katakan, bahwa sering orang Muhammadiyah yang terkena gangguan jin lari ke dukun atau kyai. Padahal jelas, di Muhammadiyah membrantas TBC tersebut. Karena mereka tidak mengetahui bagaimana cara menyembuhkan penyakit dari jin dengan metode yang syar’i!

Saya menjadi ragu saat terus membaca makalah yang dibukukan oleh Bapak Haedar Nashir. Ragu karena Bapak Haedar Nashir tidak memposisikan secara proporsional, tetapi lebih terlihat defensive dalam membela keMuhammadiyahannya. Atau Karena memang membela partai yang dibelakang beliau. Banyak kader Muhammadiyah saat berada di PKS, mereka lebih merasa dihargai ilmu keMuhammadiyahannya dari pada di Muhammadiyah sendiri. Mungkin perlu diketahui, saat kita berada diluar arena tanpa mengikuti pertandingan. Kita hanya bisa berkomentar tanpa tahu letak sakit dan seberapa sakit saat seseorang bertanding. Seharusnya Bapak Haedar Nashir mengikuti dulu kajian yang dilakukan oleh kalangan-kalangan Tarbiyah selama beberapa decade, dan setelah itu baru berkomentar. Karena apa yang ada dibuku, yang sering dicetak kader-kader PKS sendiri. Masih dalam tataran wacana umum, bukan pelaksanaan kader. Jadi, saat orang umum membaca buku-buku PKS dan belum mengikuti kajian yang dilakukan oleh PKS maka mereka lebih terlihat bingung dengan cara-cara yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera tersebut.

Tarbiyah yang dilakukan oleh PKS, cenderung memposisikan diri sebagai sarana untuk meningkatkan pembinaan bersama, dalam ruang lingkup keimanan, motivasi, dan pelaksanaan. Seperti halnya, jika berada di setiap organisasi, walaupun bukan bentukan dari PKS. Seluruh kader PKS diwajibkan untuk bisa memberikan kemaslahatan disetiap ruang lingkup organisasi tersebut, termasuk juga Muhammadiyah. Tidak pernah ada dan tidak pernah diada-adakan kader-kader PKS untuk merebut organisasi Islam dimanapun. Isu-isu yang berkembang bahwa kader-kader PKS merebut amal usaha Muhammadiyah. Adalah sebuah hal yang kenak-kanakan. Jelas sekali, ucapan Ustad Tifatul Sembiring tentang kader yang melakukan hal yang keji tersebut agar dilaporkan langsung ke DPP. Nyatanya tidak pernah ada laporan yang benar!

Sikap kader-kader PKS dalam ruang lingkup menghidupkan amal sunnah sangat jelas. Tidak ada maksud merebut apapun dari siapapun. Yang ada, adalah mewarnai kegiatan islam disetiap umat Islam berada. Tidak etis sekali, jika ada seorang kader muda PKS yang sering sholat di masjid Muhammadiyah. Yang akhirnya diamanahi oleh takmir untuk mengurusi kegiatan masjid, disebut sebagai “merebut” masjid tersebut. Ini sering sekali terjadi!

Kalaupun Tarbiyah sebagai ancaman organisasi di tubuh Muhammadiyah. Seharusnya Muhammadiyah fair dalam menginfilterasikan, semua gerakan Islam seharusnya sudah tidak diperbolehkan hadir di Muhammadiyah. Nyatanya, masih sangat banyak sekali, kader Muhammadiyah yang ikut HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), atau mengikuti Salafi, atau Jamaah Tabliq ataupun gerakan-gerakan lainnya. Jadi memposisikan diri dari semuanya. Bukan hanya dari Tarbiyah saja. Padahal jelas-jelas sekali jika Muhammadiyah mengklaim gerakannya lebih baik dari semuanya. Harusnya Muhammadiyah tidak merasa sombong dan merasa paling tua serta paling berpengalaman. Sangat jelas, Kyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah adalah untuk mempersatukan Umat. Dan untuk lebih berorientasi dalam perjuangan memuliakan syariat. Nah kalau di Muhammadiyahnya sekarang ini, apakah Syari’at sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh kader Muhammadiyah? Orang yang melakukan dan melaksanakan syari’at Islam, bukan berarti orang tersebut fanatic berlebihan. Dalam kamus bahasa Indonesia tidak pernah ada kata yang disebut “fanatic berlebihan” yang ada hanya fanatic saja. Dan orang fanatic adalah orang yang menjalankan perintah dan larangan agamanya. Jadi jelas sekali, jika orang melaksanakan sholat berarti dia fanatic terhadap islam. Seperti halnya jika dia melaksanakan syari’at islam maka dia dikatakan fanatic Islam. Bukan fanatic yang berlebihan didalam Islam!

Satu hal lagi, yang tidak fair. Bahwa PKS lebih dicenderungkan sebagai partai binaannya Ikhwanul Muslimin. Seharusnya bukan hanya PKS yang dikatakan cenderung terbina dan tertabiyah oleh Ikhwanul Muslimin. Banyak sekali di Negara-negara lain pun Ikhwanul Muslimin berperan. Seperti Hamas di Palestina, yang mendapat sambutan dan kemenangan dalam pemilu tahun 2006 kemaren dan menjadi partai politik yang sama dengan nasib FIS di Al Jazair. Atau pun di Turki, yang sekarang mendapat kemenangan penuh. Semua itu bentukan dan binaan Ikhwanul Muslimin. Sangat tidak fair sekali dalam makalah Bapak Haedar Nashir tersebut menyatakan bahwa “pada akhirnya Ikhwanul Muslimin termasuk gerakan Islam ang sebenarnya gagal di dunia” tanpa memberikan penjelasan kegagalan apa yang dimaksudkannya! Lalu kalau seandainya Bapak Haedar Nashir bertemu dengan tokoh Ikhwanul Muslimin dan ditanya “sebenarnya keberhasilan apa yang telah diraih oleh Muhammadiyah di dunia?” apa jawaban Bapak Haedar Nashir?

Sungguh ini bukan rasa sakit hati atau bahkan mengcounter pendapat Bapak Hedar Nashir. Tapi lebih cenderung mencoba untuk lebih memuhasabbah apa yang dituliskan oleh beliau. Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang kita wajib untuk membangunnya bersama. Tanpa membeda-bedakan darimana kita berasal, selama kita membangun Islam maka kita berjuang bersama. Janganlah kita berashabiah terhadap organisasi ataupun partai kita. Kita adalah umat Islam, bahwa umat Islam adalah satu. Satu Iman, satu jiwa, satu hati, yang diennya tertinggi di hadapan rabbi dan merupakan bara api bagi tirani.

Saya juga kecewa atas ucapan Bapak Amien Rais saat di Banyuwangi. Sungguh saya sangat menghormati serta mengagumi beliau (Bapak Amien Rais). Tetapi saat beliau termakan isu seperti itu, hati saya sakit. Sakit karena begitu mudahnya seorang yang pintar memposisikan diri percaya dengan berita-berita keji seperti itu. Semoga kita terselamatkan dari bara api neraka yang siap mengambil manusia sebagai bahan bakarnya. Wallahu’alam.

Sumber : http://hafez.wordpress.com

Komentar ditutup.