KH. Fakhruddin (1890-1929)-Perintis Majalah Suara Muhammadiyah

Berdirinya organisasi sosial keagamaan Muhammadiyah tidak terlepas dari sumbangsih empat kuartet bersaudara. Mereka amat dihormati oleh warga Muhammadiyah, dari sejak dulu hingga kini. Empat bersaudara tersebut antara lain H Muhammad Sudjak, KH Fakhruddin, Ki Bagus Hadikusuma, dan KH Zaini.

Mereka merupakan generasi pertama gerakan Muhammadiyah yang langsung di bawah bimbingan KH Ahmad Dahlan, Bapak Muhammadiyah. Dan dari empat orang bersaudara itu,KH. Fakhruddin adalah anak kedua yang lahir pada tahun 1890 M/1308 H, di Kampung kauman Yogyakarta. Dia berasal dari keluarga abdi dalem santri keraton Yogyakarta. Ayahnya adalah H. Hasyim yang menjabat sebagai seorang abdi dalem keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Nama kecil dari KH. Fakhruddin adalah Muhammad Jazuli.

Ketika Muhammadiyah berdiri tahun 1912, Fakhruddin langsung menjadi anggotanya dengan nomor 05. namun, saat ia menjadi anggota Muhammdiyah usianya masih sangat muda sehingga belum diberi posisi di dalam Hoofbestuur (Pengurus Besar) Muhammadiyah.

Pendidikan dasar yang diterimanya sebagian besar adalah pendidikan keagamaan secara tradisional dari ayahnya yang merupakan pengurus Masjid Keraton Yogyakarta. Di Masjid Ghede Kauman itulah dia belajar Al-qur’an (mengaji) di bawah bimbingan ayahnya sendiri.

Muhammad Jazuli (KH. Fakhruddin) pernah juga mencicipi pendidikan dunia pesantren tatkala ia dikirm oleh ayahnya untuk belajar di pesantren Wonokromo, Bantul. Namun, ia merasa tidak cocok dengan pola dan gaya pendidikan di pondok pesantren ini. Oleh karena itu, kemudian ia keluar. Sejak itu, Muhammad Jazuli tidak pernah lagi melanjutkan pendidikannya di sekolah formal.

Ia pernah mengungkapkan bahwa dirinya merupakan tamatan “Sekolah di bawah Pohon Sawo.” Itu artinya, bahwa ia sama sekali tidak pernah merasakan sekolah secara formal. Namun dikalangan teman-temannya ia dikenal sebagai seorang tokoh otodidak. Guru non formalnya adalah KH. Ahmad Dahlan – pendiri Muhammadiyah -. Sejak saat itulah namanya diganti menjadi Fakhruddin.

Pengetahuannya tentang Muhammadiyah sangatlah dalam karena ia telah aktif disaat usianya masih sangat muda dan dalam bimbingan langsung KH. Ahmad Dahlan. Oleh karena itu ia memiliki posisi tersendiri di Muhammdiyah.

Pada tahun 1915, Fakhruddin mulai dipercaya duduk dalam Hoofbestuur (HB) Muhammadiyah, setelah pada tahun 1912 belum masuk jajaran HB Muhammadiyah karena usianya yang masih sangat muda. Pada saat itu ia dipercaya menjabat sekretaris HB Muhammadiyah, jabatan yang dipegangnya hingga tahun 1921. setelah itu fakhruddin muda diposisikan sebagai Komisaris atau Vice Voorzitter I (Wakil Ketua I) yang mengetuai bidang Tabligh. Jabatan sebagai Ketua Bagian Tabligh itu tetap dipegang sampai akhir hayatnya tahun 1929.

Ketika ia menjadi sekretaris HB Muhammadiyah maupun ketika menjadi ketua Bagian Tabligh, sering kali pergi ke daerah-daerah untuk melantik dan meresmikan berdirinya cabang-cabang Muhammadiyah di daerah-daerah. Beberapa cabang Muhammadiyah yang peresmiannya dihadiri Fakhruddin antara lain: cabang Kepanjen, Malang, Betawi, Semarang, Padang Panjang, Maninjau, Simabur, Sungai Liat di wilayah Sumatra Barat. Di daerah-daerah itu juga, Fakhruddin mengisi pengajian, pengkaderan ataupun memberi penjelasan tentang kebijakan-kebijakan Muhammadiyah.

Fakhruddin juga dikenal sebagai tokoh yang peduli terhadap pengkaderan. Dari tangannyalah kemudian lahir kader-kader Muhammadiyah yang cukup handal, seperti H. Moh. Wasirnuri, H. Siradj Nawawi, R.H. Duri, H. Abdul Hamid BKN, H.M. Yunus Anis.

Dalam pengembangan amal usaha dan lembaga-lembaga Muhammadiyah fakhruddin juga memiliki andil yang cukup besar. Yang paling menonjol adalah ketika ia mendirikan Bagian Pustaka. Di bagian inilah kemudian Fakhruddin merintis majalah kebanggaan Muhammadiyah yang sampai saat ini masih beredar luas khusunya di kalangan Muhammadiyah, yaitu Suara Muhammadiyah. Selain itu, ia juga merintis pendirian percetakan yang mulai beroperasi pada tahun 1925. Dengan memiliki percetakan sendiri publikasi Muhammadiyah baik dalam bentuk majalah, almanak, dan buku-buku dapat diterbitkan dan disebarluaskan kepada para pendukungnya di daerah-daerah.

Selain bidang di atas, Fakhruddin juga berperan besar dalam perintisan pembentukan Persaudaraan Jamaah Haji Indonesia. Serta bagian-bagian lain yang dalam pembentukannya melibatkan Fakhruddin adalah bagian Tabligh, PKU, dan Hizbul Wathan. Fakhruddin memang tidak pernah menjabat sebagai ketua umum HB Muhammadiyah, karena usianya yang relatif muda dan meninggal juga dalam usia yang masih muda. Akan tetapi, kematangan dan keyakinannya dalam bermuhammadiyah sangat besar. Apalagi ia mempunyai motto “Muhammadiyah bukanlah urusan sambilan, tapi merupakan urusan keyakinan, lapangan jihad, dan beramal untuk mencari ridha Allah Swt.”

Selain aktif berorganisasi di Muhammadiyah, fakhruddin juga dikenal sebagai politikus dan wartawan. Di kancah perpolitikan, fakhruddin memulainya lewat sebuah organisasi yang bernama Budi Utomo. Hanya saja di Budi Utomo ini ia tidak bertahan lama.

Pada tahun 1913, dia menjadi anggota Syarikat Islam (SI) Cabang Yogyakarta dan menjadi pengurusnya. Sejak saat itulah kegiatan politiknya disalurkan melalui SI. Maka, kemanapun ia pergi berdakwah nama SI dan Muhammadiyah selalu disandingkan. Jasa fakhruddin dalam pengembangan SI tergolong sangat besar, sebagaimana jasanya dalam pengembangan Muhammadiyah. Berkat jasanya itulah ia diangkat menjadi Komisaris CSI pada tahun 1919. pada tahun 1920 atau selang satu tahun berikutnya dia diangkat sebagai Penningmeester (Bendahara) CSI dan jabatan itu ia pegang sampai tahun 1923.

Karena terjadi kemelut di dalam tubuh SI, maka kiprah Fakhruddin hanya sampai pada tahun 1926. pada kongres di Pekalongan, SI mengeluarkan keputusan bahwa para anggotanya tidak boleh merangkap jabatan. Ini yang membuat ia bimbang memilih antara SI dan Muhammadiyah. Di satu sisi ia juga ikut andil dalam membesarkan SI, tetapi dipihak lain ia juga berat untuk meninggalkan Muhammadiyah. Akan tetapi keputusan yang ia ambil adalah dengan legowo meninggalkan Syarikat Islam (SI), karena baginya meninggalkan Muhammadiyah jauh lebih berat dibandingkan meninggalkan SI.

Kiprah poltik Fakhruddin juga disalurkan melalui gerakan demonstrasi. Ia pernah melakukan demonstrasi bersama dengan Suryopranoto menggerakkan buruh perkebunan tebu untuk menuntut hak-hak, kehormatan, dan upah yang wajar. Karena demonstrasi yang ia lakukan, dia dituntut di pengadilan dengan dikenai denda 300 Gulden. Selanjutnya pada tahun 1925 ia terpilih sebagai utusan ke kongres Chilafat di Mesir. Namun sayang, karena kongres Chilafat ini diundur maka ia tidak jadi berangkat.

Selain aktivitas berorganisasi yang ia laksanakan, Fakhruddin juga berkecimpung dalam dunia penerbitan. Ada sejumlah buku karya tulisnya yang sempat diterbitkan antara lain: Marganing Kawulo (Karena Saya), Pan Islamisme, Surat Al-Ikhlas dan Tafsirnya, Kawan Lawan Kawan, Riwayat Nabi Muhammad, Kepentingan Pengajaran Islam, Ash-Shirathal Mustaqiem (2 jilid).

Di samping itu Fakhruddin juga ikut menangani beberapa majalah dan surat kabar, antara lain adalah: Islam Bergerak (Surat kabar), Medan Muslim, Bintang Islam, dan Suara Muhammadiyah.

KH. Fakhruddin meninggal dalam usia yang masih relatif muda, yaitu 39 tahun pada tanggal 28 Februari 1929. berkat jasa perjuangannya , berdasarkan keputusan Presiden RI No.162 tahun 1964, dia diberi penghargaan sebagai Pahlawan nasional. (Zarkasih)

sumber :www.pkesinteraktif.com

2 Balasan ke KH. Fakhruddin (1890-1929)-Perintis Majalah Suara Muhammadiyah

  1. M Shodiq Mustika mengatakan:

    masih muda sudah hebat, bisa nggak yah kita seperti beliau??

  2. tri mengatakan:

    ikutan baca dulu……….