Kompas Online : “Organisasi Keagamaan NU dan Muhammadiyah Perlu Kembangkan Diri Mengglobal “

15 Februari 2009

Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah harus keluar dari rutinitas domestiknya dan mengembangkan diri menjadi organisasi Islam berskala global. Sebagai organisasi massa yang beranggotakan puluhan juta orang, nilai Islam yang damai dan penghargaan atas nilai lokal yang diusung kedua organisasi itu perlu disebarkan ke seluruh dunia.

Hal itu diungkapkan guru besar hubungan internasional Universitas Gadjah Mada, Amien Rais, dalam ”Halaqoh (Diskusi) Posisi dan Orientasi Harokah (Gerakan) Nahdliyyah di Tengah Gerakan Islam Global” di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Kamis (26/6). Pembicara lain adalah Rais Syuriah PBNU KH Ma’ruf Amin dan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawy.

Sifat gerakannya yang lokal membuat pengaruh NU dan Muhammadiyah belum mampu bersaing dengan gerakan Islam dari Timur Tengah yang mendunia, seperti Ikhwanul Muslimin atau Hizbut Tahrir. Selama ini kedua ormas Islam Indonesia itu terlalu sibuk mengurusi pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan umat.

Kondisi itu membuat NU dan Muhammadiyah kurang menyikapi berbagai persoalan Islam secara global. Globalisasi yang ditopang kemajuan teknologi informasi kurang dimanfaatkan untuk menyebarkan pemikiran Islam damai ala Indonesia.

Kalaupun mereka bertindak, sikap itu umumnya kurang diperhatikan dalam percaturan politik internasional, baik oleh negara Muslim lain maupun dunia Barat. Karena itu, NU dan Muhammadiyah perlu fokus pada isu global yang menentukan masa depan agama.

Fariz Mehdawy menambahkan, negara-negara Arab tidak banyak mengetahui gerakan Islam Indonesia. Kendala bahasa dan jarak geografis membuat pola dan perkembangan pemikiran Islam Indonesia kurang dikenal.

Gerakan Islam dan Muslim di semua negara Islam menghadapi banyak persoalan lokal. Tiap-tiap gerakan Islam, termasuk yang ada di Timur Tengah, berpikir dalam konteks lokal mereka sendiri-sendiri.

Ia melanjutkan, kondisi itu diperparah dengan semakin melemahnya persatuan di antara umat Islam sendiri. Karena itu, penyatuan kembali umat Islam harus segara dilakukan. (Kompas online ; Jumat, 27 Juni 2008 )


Manefestasi gerakan tarbiyah dalam sikap Muhammadiyah

15 Februari 2009

Oleh : Abu hafez
Beberapa hari yang lalu, saya membeli sebuah buku berjudul “Manifestasi Gerakan Tarbiyah; Bagaimana Sikap Muhammadiyah?” Buku tipis yang di tulis oleh Bapak Haedar Nashir. Setelah saya baca tuntas buku tersebut. Saya merasakan ada sifat paranoid Bapak Haedar Nashir terhadap gerakan Tarbiyah. Sikap ini dilandasi oleh banyaknya kader-kader Muhammadiyah yang sudah terpengaruh terhadap gerakan ini (red; Tarbiyah).

Dalam penjelasan di buku tersebut. Tarbiyah merupakan bentuk atau model pembelajaran yang dilakukan oleh Ikhawanul Muslimin. Jadi relefansi gerakan tarbiyah yang dikomandoi oleh Partai Keadilan Sejahtera, merupakan afiliasi dari gerakan Ikhawanul Muslimin yang ada di Mesir. Dan beberapa hal yang lainnya. Mungkin kita kupas sedikit dari tulisan Bapak Haedar Nashir.

Ada sebuah kerisauhan yang terlihat dari terbitnya makalah yang dibukukan tersebut. Contohnya, ketika anak Bapak Haidar Nashir mengadu ke pada beliau tentang banyaknya kawan-kawan di SMAnya yang terlibat kelompok “Harakah” menunjukkan fanatisme sikap keagamaan yang berlebihan. Hingga sampai ada kata-kata “kurang Islami” atau “tidak Islami”. Satu hal yang mungkin kita harus garis bawahi, bahwa kadang saat-saat kita berada dilinkungan atau masih menjadi seorang pelajar ataupun mahasiswa. Sifat idealisme kita kadang memang berlebihan, dan terlihat mencolok sehingga terlihat tidak akhsan di mata masyarakat. Hingga masyarakat membuat kesimpulan sendiri tentang apa yang mereka lihat tanpa mempelajari sebab perkataan atau perbuatan itu muncul!

Mungkin kita perlu kembali tersadar tentang prinsip gerakan umat Islam. Saya masih ingat sekali seorang guru fiqih saya, waktu saya masih sekolah di SMU Muhammadiyah. Bahwa semua umat Islam itu bersaudara, setiap umat Islam yang tersakiti dibelahan bumi yang lainnya. Maka umat Islam yang lainnya pun akan ikut tersakiti. Jadi Islam adalah agama pemersatu manusia.

Saya jadi merasa skeptis dengan tulisan Bapak Haedar Nashir tersebut. Bukan karena apa yang beliau tulis, sikap skeptis saya. Tapi lebih karena kecenderungan “PKS (Partai Keadilan Sejahtera)” diposisikan sebagai tertuduh. Jadi lebih karena ada permasalahan yang membuat kader Muhammadiyah eksodus ke harakah atau gerakan Islam lainnya, sehingga PKS lebih diposisikan sebagai virus yang membuat kader-kader Muhammadiyah sudah tidak loyal lagi terhadap Muhammadiyah. Mungkin kita harus ingat, bahwa banyak sekali kader Muhammadiyah yang berada di partai-partai, termasuk di Partai Keadilan Sejahtera. Namun yang membuat kader-kader Muhammadiyah merasa enjoy disebuah partai adalah karena kesamaan visi dan misi kader-kader Muhamamdiyah tersebut dengan partai yang di senanginya. Contoh saja, PAN. Banyak sekali kader-kader Muhammadiyah yang juga tidak bisa memposisikan diri antara Muhammadiyah dan PAN. Jadi terasa seperti meMuhammadiyahkan PAN atau memPANkan Muhammadiyah. Atau bisa juga ke PBB, PKS, PPP (biasanya golongan-golongan tua yang berada dipartai tersebut).

Didalam kader PKS, ada sebuah hal yang memang menjadi kewajiban seorang kader saat berada di Partai tersebut. Seperti halnya mengaji yang biasanya di sebut Liqo’ (berkumpul). Seperti halnya juga di PAN, atau partai manapun pasti mempunyai sebuah kewajiban yang harus dipenuhi kadernya. Kalau kita mau berpikir jujur, dan mau perpikir jernih. Sesungguhnya mana ada sebuah partai yang mengadakan setiap minggunya (minimal) mereka harus mengkaji Al Qur’an atau memuhasabbah diri untuk menjadi sorang muslim yang benar-benar menjalankan apa yang diturunkan oleh Allah. Walaupun kadang ada beberapa yang tidak bisa dipenuhi semua!

Kita harus jeli melihat persoalan tersebut. Jangan hanya merasa bahwa sesuatu yang baru membuat aturan yang lama menjadi berubah total. Tarbiyah yang dipahami didalam Partai Keadilan Sejahtera, merupakan sifat yang lebih cenderung membuat orang untuk bisa mengetahui kebenaran dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Tidak ada sama sekali sesuatu yang menyimpang didalam pemahaman Tarbiyah yang dilakukan oleh PKS. Ketika umat Islam sudah tertarbiyah dengan baik, maka sesungguhnya mereka akan bisa melihat sendiri apa yang terbaik yang akan dia lakukan. Termasuk dalam memilih Partai. Yang dimaksud memilih partai yang Islam adalah partai yang memang memperjuangkan Islam, bukan harus memilih PKS sebagai jalan utama yang harus dipilih. Bahkan disetiap kajian yang saya ikuti, tidak pernah kita disuruh untuk mengikuti PKS, tapi lebih dimaksudkan untuk membandingkan partai-partai yang ada. Dan itu relefan untuk seorang manusia yang harus memilih dan melihat latar belakang sebuah partai dalam pembentukan masyarakat.

Isu-isu yang berkembang di masyarakat Muhammadiyah adalah seperti apa yang dikatakan oleh beliau (Bapak Haedar Nashir). Yaitu, seperti halnya kader PKS yang mengikuti Tahlilan, atau kader PKS yang mengikuti Yasinan, seperti halnya juga Kader PKS yang melakukan Ruqyah. Sekali lagi Bapak Haedar Nashir tidak memposisikan PKS itu sebuah partai yang majemuk. Tapi lebih terlihat sebuah madzab, jadi PKS identik dengan madzab baru yang membolehkan hal-hal seperti diatas, padahal kegiatan tersebut bid’ah menurut pandangan Muhammadiyah.

Kita harus tahu, bahwa PKS adalah sebuah partai yang majemuk. Didalamnya terdapat orang-orang NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, dll. Kemajemukan tersebut adalah wajib bagi sebuah partai. Mungkin kita bisa melihat Fatwa-Fatwa Dewan Syariah PKS. Jelas sekali, bahwa didalam fatwa-fatwa tersebut tidak mencantumkan boleh tidaknya seorang kader untuk bertahlilan, tetapi lebih didasarkan mashalat dan aturan tahlilan. Bahkan jika kita tidak mampu merubah tradisi tahlilan maka kita tidak diperbolehkan hadir didalam tahlilan orang yang meninggal. Perlu diketahui, tahlilan ada dua macam. Tahlilan pekanan yang tidak ada hubungannya dengan kematian, juga tahlilan kematian. Tahlilan pekanan masih ditolerir hadir, namun jika tahlilan kematian. Kita dilarang untuk makan dari orang yang dilanda musibah tersebut. Bahkan larangan hadir di acara tersebut jika memang tidka bisa memberikan kemaslajatam. Didalam tubuh PKS sendiri, mempunyai banyak macam madzab, selama masih ada dalilnya. Maka tidak perlu di perdebatkan. Namun untuk ruqyah, perlu diketahui PAN juga pernah melakukan kegiatan ruqyah. Dan ruqyah dalilnya sangat jelas!

Boleh saya katakan, bahwa sering orang Muhammadiyah yang terkena gangguan jin lari ke dukun atau kyai. Padahal jelas, di Muhammadiyah membrantas TBC tersebut. Karena mereka tidak mengetahui bagaimana cara menyembuhkan penyakit dari jin dengan metode yang syar’i!

Saya menjadi ragu saat terus membaca makalah yang dibukukan oleh Bapak Haedar Nashir. Ragu karena Bapak Haedar Nashir tidak memposisikan secara proporsional, tetapi lebih terlihat defensive dalam membela keMuhammadiyahannya. Atau Karena memang membela partai yang dibelakang beliau. Banyak kader Muhammadiyah saat berada di PKS, mereka lebih merasa dihargai ilmu keMuhammadiyahannya dari pada di Muhammadiyah sendiri. Mungkin perlu diketahui, saat kita berada diluar arena tanpa mengikuti pertandingan. Kita hanya bisa berkomentar tanpa tahu letak sakit dan seberapa sakit saat seseorang bertanding. Seharusnya Bapak Haedar Nashir mengikuti dulu kajian yang dilakukan oleh kalangan-kalangan Tarbiyah selama beberapa decade, dan setelah itu baru berkomentar. Karena apa yang ada dibuku, yang sering dicetak kader-kader PKS sendiri. Masih dalam tataran wacana umum, bukan pelaksanaan kader. Jadi, saat orang umum membaca buku-buku PKS dan belum mengikuti kajian yang dilakukan oleh PKS maka mereka lebih terlihat bingung dengan cara-cara yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera tersebut.

Tarbiyah yang dilakukan oleh PKS, cenderung memposisikan diri sebagai sarana untuk meningkatkan pembinaan bersama, dalam ruang lingkup keimanan, motivasi, dan pelaksanaan. Seperti halnya, jika berada di setiap organisasi, walaupun bukan bentukan dari PKS. Seluruh kader PKS diwajibkan untuk bisa memberikan kemaslahatan disetiap ruang lingkup organisasi tersebut, termasuk juga Muhammadiyah. Tidak pernah ada dan tidak pernah diada-adakan kader-kader PKS untuk merebut organisasi Islam dimanapun. Isu-isu yang berkembang bahwa kader-kader PKS merebut amal usaha Muhammadiyah. Adalah sebuah hal yang kenak-kanakan. Jelas sekali, ucapan Ustad Tifatul Sembiring tentang kader yang melakukan hal yang keji tersebut agar dilaporkan langsung ke DPP. Nyatanya tidak pernah ada laporan yang benar!

Sikap kader-kader PKS dalam ruang lingkup menghidupkan amal sunnah sangat jelas. Tidak ada maksud merebut apapun dari siapapun. Yang ada, adalah mewarnai kegiatan islam disetiap umat Islam berada. Tidak etis sekali, jika ada seorang kader muda PKS yang sering sholat di masjid Muhammadiyah. Yang akhirnya diamanahi oleh takmir untuk mengurusi kegiatan masjid, disebut sebagai “merebut” masjid tersebut. Ini sering sekali terjadi!

Kalaupun Tarbiyah sebagai ancaman organisasi di tubuh Muhammadiyah. Seharusnya Muhammadiyah fair dalam menginfilterasikan, semua gerakan Islam seharusnya sudah tidak diperbolehkan hadir di Muhammadiyah. Nyatanya, masih sangat banyak sekali, kader Muhammadiyah yang ikut HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), atau mengikuti Salafi, atau Jamaah Tabliq ataupun gerakan-gerakan lainnya. Jadi memposisikan diri dari semuanya. Bukan hanya dari Tarbiyah saja. Padahal jelas-jelas sekali jika Muhammadiyah mengklaim gerakannya lebih baik dari semuanya. Harusnya Muhammadiyah tidak merasa sombong dan merasa paling tua serta paling berpengalaman. Sangat jelas, Kyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah adalah untuk mempersatukan Umat. Dan untuk lebih berorientasi dalam perjuangan memuliakan syariat. Nah kalau di Muhammadiyahnya sekarang ini, apakah Syari’at sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh kader Muhammadiyah? Orang yang melakukan dan melaksanakan syari’at Islam, bukan berarti orang tersebut fanatic berlebihan. Dalam kamus bahasa Indonesia tidak pernah ada kata yang disebut “fanatic berlebihan” yang ada hanya fanatic saja. Dan orang fanatic adalah orang yang menjalankan perintah dan larangan agamanya. Jadi jelas sekali, jika orang melaksanakan sholat berarti dia fanatic terhadap islam. Seperti halnya jika dia melaksanakan syari’at islam maka dia dikatakan fanatic Islam. Bukan fanatic yang berlebihan didalam Islam!

Satu hal lagi, yang tidak fair. Bahwa PKS lebih dicenderungkan sebagai partai binaannya Ikhwanul Muslimin. Seharusnya bukan hanya PKS yang dikatakan cenderung terbina dan tertabiyah oleh Ikhwanul Muslimin. Banyak sekali di Negara-negara lain pun Ikhwanul Muslimin berperan. Seperti Hamas di Palestina, yang mendapat sambutan dan kemenangan dalam pemilu tahun 2006 kemaren dan menjadi partai politik yang sama dengan nasib FIS di Al Jazair. Atau pun di Turki, yang sekarang mendapat kemenangan penuh. Semua itu bentukan dan binaan Ikhwanul Muslimin. Sangat tidak fair sekali dalam makalah Bapak Haedar Nashir tersebut menyatakan bahwa “pada akhirnya Ikhwanul Muslimin termasuk gerakan Islam ang sebenarnya gagal di dunia” tanpa memberikan penjelasan kegagalan apa yang dimaksudkannya! Lalu kalau seandainya Bapak Haedar Nashir bertemu dengan tokoh Ikhwanul Muslimin dan ditanya “sebenarnya keberhasilan apa yang telah diraih oleh Muhammadiyah di dunia?” apa jawaban Bapak Haedar Nashir?

Sungguh ini bukan rasa sakit hati atau bahkan mengcounter pendapat Bapak Hedar Nashir. Tapi lebih cenderung mencoba untuk lebih memuhasabbah apa yang dituliskan oleh beliau. Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang kita wajib untuk membangunnya bersama. Tanpa membeda-bedakan darimana kita berasal, selama kita membangun Islam maka kita berjuang bersama. Janganlah kita berashabiah terhadap organisasi ataupun partai kita. Kita adalah umat Islam, bahwa umat Islam adalah satu. Satu Iman, satu jiwa, satu hati, yang diennya tertinggi di hadapan rabbi dan merupakan bara api bagi tirani.

Saya juga kecewa atas ucapan Bapak Amien Rais saat di Banyuwangi. Sungguh saya sangat menghormati serta mengagumi beliau (Bapak Amien Rais). Tetapi saat beliau termakan isu seperti itu, hati saya sakit. Sakit karena begitu mudahnya seorang yang pintar memposisikan diri percaya dengan berita-berita keji seperti itu. Semoga kita terselamatkan dari bara api neraka yang siap mengambil manusia sebagai bahan bakarnya. Wallahu’alam.

Sumber : http://hafez.wordpress.com


AKTUALIASASI IDEOLOGI MUHAMMADIYAH

8 Februari 2009

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (Qs. Surat Ash-Shaf:4)

MUHAMMADIYAH memang bukan ideologi, dalam arti sebagai sistem paham yang kaku yang berusaha menjelaskan dunia dan melakuakn perubahan berdasarkan teori perjuangan yang menjadi pahamnya, sebagaimana ideologi-ideologi pada umumnya. Tetapi Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam yang memiliki misi, anggota, dan cita-cita mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya di tengah berbagai arus pemikiran dan kelompok yang bermacam ragam membutuhkan faktor pengikat ideologis, sehingga dalam kadar tertentu memerlukan dimensi ideologi. Ideologi Muhammadiyah itu tiada lain sebagai sistem pengikat paham dan perjuangan dalam mewujudkan tujuan dalam satu kesatuam imamah, jam’iyah, dan jama’ah.

Ada beberapa kasus yang dapat dijadikan latarbelakang kenapa ideologi Muhammadiyah perlu ditanamkan kembali di lingkungan Persyarikatan

1. Beberapa kasus di mana para kader Muhammadiyah termasuk di politik sulit bersatu sehingga sering dikalahkan oleh pihak lain padahal Muhammadiyah terbilang mayoritas di temppat itu.

2. Melemahnya kesatuan imamah, jam’iyah, dan jama’ah di kalangan Persyarikatan termasuk ketaatan pimpinan Amal Usaha terhadap Persyarikatan, sehingga Muhammadiyah cenderung berjalan sendiri-sendiri.

3. Melemahnya ruh gerakan di sementara lingkungan Persyarikatan dan adanya tantangan-tantangan ideologis dari luar, merupakan kenyataan yang harus dihadapi oleh Muhammadiyah.

4. Tantangan-tantangan dari luar seperti penetrasi nilai-nilai sekular dan paham lain yang menimbulkan erosi keagamaan dan kehidupan warga Muh

Adapun ideologi Muhammadiyah yang perlu dipahami dan menjadi acuan baku dalam Muhammadiyah selama ini, ialah sebagai berikut:

1. Muqaddimah Anggaram Dasar Muhammadiyah yaitu aqidah dan cita perjuangan Muhammadiyah yang fundamental yang mengandung pernyataan enam hal prinsipil. Konsep ini lahir tahun 1945 untuk memantapkan warga Muhammadiyah dalam ber-Islam dan ber-Muhammadiyah yang didorong dua hal yaitu (a) terdesaknya pertumbuhan ruh Muhammadiyah oleh perkembangan lahiriah dan (b) masuknya pengaruh pemikiran luar (non-Islami) dalam kehidupan Muhammadiuah.

2. Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah yang mengandung pernyataan tentang ideologi, paham agama, dan misi serta fungsi Muhammadiyah dalam kehidupan. Konsep ini lahir tahun 1967 dengan tujuan untuk memantapkan keyakinan dan cita-cita hidup (ideologi) di kalangan warga Muhammadiyah yang diakibatkan oleh perkembangan sekularisasi, modernisasi, dan deideologisasi yang dijalankan oleh pemerintahan Orde Baru.

3. Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, lahir tahun 2000 (Muktamar Jakarta), mengandung seperangkat nilai dan norma ajaran Islam agar seluruh warga Muhammadiyah menjalani kehidupan secara Islami. Pedoman ini lahir sebagai antisipasi atas perubahan-perubahan politik, perubahan sikap hidup, dan penetrasi budaya yang melunturkan ruh Islam dan ruh jihad di kalangan warga Muhammadiyah.

Karena itu, kini diperlukan pembinaan ideologi gerakan dalam Muhammadiyah, dengan membangun kesadaran, keyakinan, pemahaman, dan aktualisasi mengenai hal-hal fundamental berikut ini:

1. Menanamkan Keyakinan dan Paham tentang Islam sebagai Pandangan Hidup

Pandangan fundamental mengenai Islam sebagai pandangan hidup Muhammadiyah tercermin dalam pemikiran Islam Kyai Ahmad Dahlan yang bercorak tajdid, hasil-hasil pemikiran Majelis Tarjih, Masalah Lima, Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, Keyakinan Hidup Islami dalam Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, dan pemikiran-pemikiran Islam lainnya yang selama ini menjadi acuan nilai dan norma yang merujuk pada Al-Quran dan Sunnah Nabi yang shahihah (maqbulah) dengan mengembangkan ijtihad. Pandangan hidup Islami tersebut mengandung pokok-pokok pikiran tentang dasar atau landasan hidup berdasarkan Tauhid (Q.S. Al-Ikhlash: 1-4; Ar-Rum: 30), fungsi hidup berupa ibadah dan kekhalifahan (Q.S. Adz-Dzariat: 56; Al-Baqarah: 30), tugas hidup beramal shalih (Q.S. Ali Imran: 114), pedoman hidup ialah Al-Quran dan As-Sunnah (Q.S. Al-Baqarah: 2, Al-Hadist), dan tujuan hidup untuk meraih keridhaan Allah (Q.S. Al-Fath: 29).

2. Menjadikan Al-Islam dan Kemuhammadiyah sebagai Jiwa Gerakan

Bahwa keseluruhan aktivitas gerakan Muhammadiyah yang dilembagakan dan dioperasionalisasikan melalui berbagai penggarapan amal usaha dan program-program Persyaritakan maupun dalam membangun pola tingkahlaku segenap anggota Muhammadiyah senantiasa disemangati dan dilandasi oleh ruh atau jiwa Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang menjadi faktor pengikat ideologis baik dalam jama’ah, jam’iyah, maupun imamah di tubuh Persyarikatan. Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai jiwa, alam pikiran, dan pengetahuan kolektif yang menjadi ciri khas atau identitas Muhammadiyah yang melahirkan cara beragama yang berlandaskan tauhid murni, berperilaku dengan meneladani uswah hasanah Muhammad Rasulullah, mengembangkan ijtihad dan alam pikiran tajdid, beramal ilmiah dan berilmu amaliah, serta senantiasa melahirkan amal-usaha yang bermanfaat dan menjadi rahmatan lil-‘alamin bagi umat dan masyarakat luas di mana Muhammadiyah berada.

3. Mewujudkan Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sebagai Tujuan

Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya merujuk pada kualitas umat terbaik (Khaira Ummah) yang kualitas Rabbani yang dibina oleh ajaran Islam (Q.S. Ali Imran: 110), masyarakat yang berperikemanusiaan (Q.S. Al-Isra: 70), masyarakat pengabdi Tuhan (Q.S. Adz-Dzariat: 56), yang memiliki pertalian kepada Allah dan kepada sesama manusia (Q.S. Ali-Imran: 112), suatu “masyarakat di mana keutamaan, kesejahteraan, dan kebahagiaan luas merata”, yang digambarkan sebagai “baldhatun thayyibatun wa Rabbun ghafur”.

4. Melaksanakan Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar sebagai Praksis Gerakan

Komitmen gerakan Muhammadiyah dengan seluruh kegiatannya tidak lain menjalankan misi da’wah Islam yaitu menyeru kepada Al-Kair, mengajak kepada Al-Ma’ruf, mencegah dari Al-Munkar, dan mengajak beriman kepada Allah (Q.S. Ali Imran: 104, 110), yang dilaksanakan secara menyeluruh ke berbagai bidang kehidupan dengan pilihan-pilihan strategis sesuai dengan misi dan situasi yang dihadapi, dan cara-cara yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam, sehingga Islam menjadi rahmat bagi semesta alam (Q.S. Al-Anbiya: 107).

5. Menjadikan Organisasi sebagai Instrumen/Sistem Gerakan

Bahwa perjuangan mewujudkan misi Muhammadiyah hanyalah akan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya jika ditempuh secara kolektif melalui organisasi sebagaimana pesan Al-Quran Surat Ali Imran 104 yang memerintahkan adanya sekalian golongan dari umat Islam yang mengajak kepada ke-Islaman, menyuruh kepada kebaikan, dan mencegah dari kemunkaran. Organisasi sebagai alat perjuangan bahkan menurut ushul fiqih menjadi wajib sebagaimana qaidah, bahwa ““uatu kewajiban tidak selesai kecuali dengan adanya suatu barang, maka barang itu hukumnya wajib” (maa laa yatimmu al-wajib, illa bihi fahuwa wajibun). Melalui organisasi terdapat musyawarah (Q.S. Asy-Syura: 37) dan adanya barisan yang kokoh (Q.S. Ash-Shaf: 4).

6. Menyatukan Warga, Kader, dan Pimpinan sebagai Pelaku Gerakan

Segenap anggota Muhammadiyah dari warga sampai kader dan pimpinan di seluruh tingkatan dan lingkungan, termasuk di kalangan amal usaha, merupakan subjek atau pelaku gerakan Muhammadiyah sesuai dengan posisi dan perannya dalam satu kesatuan kolektif (Q.S. As-Syura: 13, Ali Imran: 104, Al-Anfal: 60, . Yusuf: 108, Al-Maidah: 67).

7. Berperan-Aktif dalam Kehidupan Umat dan Bangsa sebagai Langkah Strategis Gerakan

Muhammadiyah senantiasa mengambil posisi dan peran yang signifikan dalam keseluruhan dinamika kehidupan umat dan bangsa yang dilandasai oleh misi dan orientasi da’wah amar ma’ruf nahi munkar serta tajdid secara tersistem dan terorganisasi rapih.

8. Menyatukan Faktor-faktor Gerakan sebagai pendukung pencapaian Usaha dan Tujuan Gerakan

Yaitu faktor mentalitas (akhlaq, ruh jihad), tata aturan, konsep dan pemikiran, taktik dan strategi, dana, fasilitas, sarana dan prasarana, dan faktor-faktor lainnya yang dapat mendukung misi dan pencapaian tujuan gerakan Muhammadiyah

Persoalan Aktualisasi

Setelah Mencermati dan memahami normatifitas ideologi Muhammadiyah tersebut, sebagai angkatan Muda Muhammadiyah dan sekaligus kader, maka agenda berikutnya adalah aktualisasi nilai-nilai tersebut dalam pergulatan zaman dan perubahan peradaban yang semakin cepat. Ideologi Muhammadiyah akan abadi ketika ia mampu dimaknai secara dewasa dan arif oleh para kadernya dalam sebuah kerja-kerja praksis yang menekankan pada keberpihakan persoalan-persoalan keummatan. Di sinilah inti dari aktualisasi nilai tersebut.

Relevan tidaknya ideologi Muhammadiyah akan tergantung dari fokus, prioritas dan irama kerja Muhammadiyah sekarang. Kita harus ingat bahwa jika pilihan Muhammadiyah untuk tidak melakukan reorientasi, penajaman, dan pengembangan pada wilayah pemikiran keislaman dan kemasyarakatan, sementara tantangan yang dihadapi semakin ketat di mana Muhammadiyah Muhamamdiyah mengalami perubahan secara drastis, maka yang paling terancam dalam oleh perubahan tersebut adalah “bahasa” / ideologi yang digunakan oleh gerakan dan Perjuangan Muhamamadiyah. “Bahasa “ tersebut tidak mampu menyentuh substansi persoalan-persoalan empiris-pragmatis-kekinian yang digeluti oleh generasi sekarang maupun masa mendatang. Akibatnya “bahasa” dan diskursus keagamaan Muhammadiyah akan terasa outmoded dan tidak tertutup kemungkinan akan menjadi terdengar asing bagi masyarakat luas.

Maka agenda yang mendesak adalah Pertama, harus ada perubahan kesadaran, sikap mental dan perilaku dari seluruh warga dan Pimpinan Muhammadiyah, institusi terkait di semua level kepengurusan. Semuanya harus menyadari bahwa tantangan masa depan Muhammadiyah akan jauh lebih berat dan kompleks dibanding dengan pada saat Muhammadiyah berdiri maupun saat sekarang ini, sementara perangkat organisasi ini tidak lagi memadai jika tidak dilakukan reformasi. Tanpa perubahan kesadaran, sikap mental dan komitmen, perilaku niscaya niat untuk melakukan perubahan akan terhenti sebatas komitmen.

Kedua, diperlukan penyesuaian struktur organisasi secara lebih menyeluruh. Struktur organisasi yang pada awalnya dimaksudkan untuk mempermudah mencapai tujuan persyarikatan, pada akhirnya cenderung membirokrasi dan memperlambat gerak persyarikatan untuk merespon arus tantangan yang demikian deras. Struktur organisasi yang terlalu besar, karena pertimbangan akomodasi politik lebih dikedepankan, membuat organisasi ini cenderung kurang efektif. Oleh karena itu diperlukan struktur organisasi yang sederhana dalam arti rentang kendali yang tidak terlalu lebar dan tetap fleksibel, sehingga organisasi ini mampu merespon zaman yang semakin cepat berubah.

Pada akhirnya, jika niat untuk melakukan perubahan telah diikrarkan disertai kesediaan diri untuk ambil bagian dalam arus perubahan tersebut, maka hanya kepada-Nya lah segala sesuatunya kita serhakan, dengan disertai harapan agar apa yang telah kita azamkan ini selalu dalam ridho dan hidayahNya amin.
Sumber : irvanogie.wordpress.com


REFLEKSI DAKWAH KULTURAL MUHAMMADIYAH

8 Februari 2009

Oleh : Ahmad Kurnia, SPd,MM.

Muhamadiyah sejak dahulu dianggap sebagai icon pembaharu dan organisasi modern yang menonjol dalam dakwah sosial dan dakwah pendidikan. Terbukti dengan berdirinya lembaga sosial, lembaga pendidikan dan amal usaha lainnya diseluruh Indonesia, bahkan bisa menembus wilayah regional Asia Tenggara. Tentu saja prestasi ini sangat luar biasa sekali dan bahkan diakui didunia internasional menjadi pembaharu pergerakan Islam dengan gerakan tajdid-nya.

Namun aktifitas dakwah dan gerakan tajdid Muhammadiyah ini akhir-akhir terasa kurang geregetnya dalam menjaring kader baru persyarikatan yang bukan hanya sekedar seorang organisatoris, tapi juga seorang yang kader yang kafa’ah keagamaannya sangat baik, sehingga mengembalikan Muhammadiyah sebagai lumbung kader dakwah yang menghasilkan ulama yang berilyan seperti pendirinya KH Ahmad Dahlan yang melegendaris kemudian sempat terputus pada masa kepemimpinan KH Azhar Bashir, MA, yang kemudian diteruskan dengan terpilihnya Prof Dr Amin Rais, MA yang lebih menonjol kecendikiawannya dan aktifitas politiknya atau diteruskan Prof Dr. Syafii Ma’arif seorang pakar sejarah yang terkadang beliau sering membuat wacana pribadi yang orang Muhammadiyah itu sendiri saja kebingungan.

Kesadaran akan kepemimpinan ulama di Muhammadiyah baru terbuka saat terpilihnya Prof Dr. Din Syamsuddin (2005-2010) dalam Muktamar Muhammadiyah di Malang yang tidak diragukan lagi keulamaannya, dan uniknya beliau alumni Gontor (Jawa Timur) dan saat ini beliau sekretaris MUI pusat.

Selain butuhnya kepemimpinan ulama perlua adanya pengembangan dakwah jauh lebih kreatif dan mampu merangkul berbagai golongan untuk mengenal Muhammadiyah dengan pendekatan cultural, sehingga wacana baru tentang perlunya wacana dakwah kutural semakin menguat dikalangan Muhammadiyah untuk mengembalikan citra muhammadiyah sebagai gerakan Islam dan gerakan dakwah. Untuk menjawab kekhawatiran bahwa Muhammadiyah terasa lamban berhadapan dengan permasalahan realitas umat seperti solidaritas palestina, pemberlakuan UU Anti pornografi fornoaksi (AFF) dan anggapan keterlenaan dalam kemapanannya jelas bisa dijadikan sebagai masukan positif bagi perkembangan Muhammadiyah dimasa yang akan datang dengan lebih membenahi pengakaderan internal dan menggiatkan dakwah keluar yang sementara ini tidak begitu bergema bahkan sekarang justru dilakukan organisasi pergerakan dakwah lain seperti Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), pondok pesantren Hidayatullah yang bisa masuk kekalangan suku terasing di Indonesia dan bersaing dengan para missionaries dan kaum zending.

Bila kita amati, para aktifis dakwah Muhammadiyah lebih dikenal masyarakat sebagai inteletual dan pengamat politik yang senang dengan kajian organisasi atau kajian ilmiah yang bersifat wacana daripada mengkritisi permasalahan umat. Sehingga saat berhadapan dengan masyarakat tradisional terkesan tidak bisa masuk bahkan untuk merubah adat istiadat yang masih berbau bid’ah, khurofat dan tahayul serasa mentok, sehingga dakwah kita masih terpaku dengan dakwah internal dengan tujuan “Me-Muhammadiyahkan orang Muhammadiyah bukan me-Muhammadiyahkan masyarakat di luar Muhammadiyah”. Ditandai dengan adanya Pengajian Muhammadiyah baik dicabang maupun tingkat daerah hanya diikuti oleh orang dan simpatisan Muhammadiyah dan belum bisa mengajak orang lain diluar Muhammadiyah untuk mengikuti pengajian tersebut. Sisi lain untuk level menengah dihadapkan dengan virus Sipilis (sekulerisme, pluralisme dan liberalisme) yang mengjangkiti kaum intelektual mudanya.

Dakwah cultural.

Alasan kenapa kita harus kembali kedakwah kutural, antara lain a) Betapa kuatnya cultural masyarakat kita sehingga sampai sekarang belum terlihat dakwah kita dimasyarakat b) semakin berubahnya tatanan strategi dakwah tradisonal, c) semakin merebaknya permasalahan social-kultural dimasyarakat d) semakin mencuatnya dan leluasanya penyimpangan dakwah e) Ketidak tegasan pemerintah terhadap lahirnya aliran-aliran sesat di Indonesia.f) semakin kuatnya kristenisasi dengan kedok budaya g) semakin kurang kristolog-kristolog muda Muhammadiyah

Kesulitan Dakwah

Beberapa Alasan kenapa dakwah kita sedikit terhambat antara lain :

Kesulitan pertama, Persyarikatan kita kurang sekali memiliki kader dakwah bila dibandingkan dengan jumlah kader organisasi semakin melimpah apalagi semasa kepartaian tahun 1999. Kesulitan menemukan kader dakwah sebagaimana yang dicita-citakan KH Ahmad Dahlan sebenarnya telah disadari persyarikatan yang salah satunya dengan mendirikan pesantren unggulan Muhammadiyah salah satunya dengan masih adanya sekolah Mualimin Mualimat (Yogyakarta), Pesantren Modern Darul Arqom (Garut) yang bisa menghasilkan calon da’I ataupun beasiswa bagi putra-putri Muhammadiyah untuk jurusan tarjih di UMM (Malang). Tapi belum begitu maksimal memasok kebutuhan kader berkualitas sebagaimana kita bandingkan dengan organisasi Nakhdatu Ulama dengan pondok Gontor Darussalam yang bisa mengahasilkan da’i-da’i berkualitas ataupun pengakderan praktis dan informal, tapi bisa mengisi terbentuknya da’i-da’i muda, padahal kajian dakwah lingkup kecil dulu pernah dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan sebagaimana yang pernah dilakukan Rasulullah dalam mengakder para sahabatnya di rumah Al-Arqam bin Abil Arqam RA dalam bentuk perkumpulan kecil yang justru dipraktikan oleh saudara kita (sejenis Halaqoh, ussar/ usroh) dan kita (orang Muhammadiyah) harus legowo mengakui keberhasilan system yang dipraktikan oleo saudara kita ini dalam bentuk pembinaan dakwah (takwin) sehingga membentuk kader dakwah yang loyal dan mencerahkan umat, bahkan malahan kita mencurigainya sebagi virus tarbiyah karena merubah fikrah kemuhammadiyahan anak-anak muda Muhammadiyah. Dengan mengurangi kejumudan kita dan bisa juga ini bagian dari gerakan tajdid, apa salahnya kita kembali dengan apa yang dicontohkan rasulullah.

Kesulitan kedua, Dakwah kita masih tertuju pada orang Muhammadiyah, belum bisa merambah keluar sehingga ideologi Muhammadiyah belum bisa merasuk ke masyarakat dengan gerakan tajdid-nya. Karena ketidak universal-nya dakwah kita, sehingga dakwah kutural inilah yang perlu kita lakukan sehingga kevakuman dakwah kita bisa menyentuh berbagai ragam masyarakat.

Kesulitan ketiga, Adanya ketidakpuasan para kader persyarikatan menyebabkan adanya perubahan medan dakwah, dimana dakwah kita masih saja mengandalkan kaderisasi disekolah-sekolah, sementara saudara kita sudah mencari market lain yang ternyata dimasyarakat masih terbuka, seperti startegi dakwah cultural dengan disertai revitalisasi dakwah mulai barisan terbawah yaitu dicabang-ranting dan ortom AMM perlu menjadi prioritas pertama dengan syarat harus mempersiapkan kader muda yang militan dan loyal terhadap persyarikatan, perbaikan lain perlu adanya revisi materi Kemuhammadiyahan yang lebih menyentuh terciptanya loyalitas/komitmen dan ketertarikan pada pengembangan Muhammadiyah dimasa yang akan datang. Sehingga ketidakpuasan banyak kader kita yang beralih ke organisasi lain yang bisa mengisi kehausan spiritual yang belum ditemukan di Muhammadiyah bisa dikurangi dengan sikap bijak dengan tidak menyalahkan manhaj lain, Artinya kita perlu mengadakan re-inventing dan benchmarking dakwah Muhammadiyah dengan melihat perkembangan dan keberhasilan dakwah organisasi Islam lainnya. Artinya kita harus berguru dan siap menerima kekurang-kekurangan ini sebagai sebuah refleksi dakwah, bukan melahirkan penghujatan yang sebenarnya bukan karakteristik orang Muhammadiyah yang modernis dan tidak jumud serta siap menerima perubahan medan dakwah yang dari hari ke hari semakin bergeser, sehingga kelemahan-kelemahan kita bisa kita terima dengan bijak dan dengan hati yang legowo sebagai sebuah dinamika dakwah. Selama masih ada control dan perhatian yang baik, layaknya seorang bapak terhadap anaknya dan kita bersama benahi system pengkaderan kita dimasa yang akan datang.
**Penulis : Ketua Lembaga Pustaka dan Informasi
Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Bekasi


Mengenal sekolah kader Muhammadiyah

8 Februari 2009

Muallimin (didirikan pada tahun 1918) merupakan nama pendek dari Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Sekolah ini juga sering disebut secara pendek m3in (baca: Emgain) oleh para alumninya. Ia terletak di jantung kota Yogyakarta dan termasuk sebagai salah satu sekolah yang memiliki sejarah yang cukup panjang khususnya berkaitan dengan pendirian dan perkembangan organisasi Muhammadiyah di Indonesia.

Muallimin bukanlah sekolah Muhammadiyah biasa. Ia memiliki predikat sebagai Sekolah Kader Muhammadiyah, di mana banyak alumninya mengabdikan dirinya dalam perjuangan organisasi ini, baik dari tingkat Ranting hingga tingkat Pimpinan Pusat.

Sejarah

Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1918 dengan nama “Qismul Arqa” di Kampung Kauman Yogyakarta (Alfian, 1989). Sepanjang sejarahnya, Madrasah al-Qismu al-Arqo mengalami beberapa kali perubahan nama. Secara kronologis, perubahan nama ini dimulai dari Madrasah al-Qismu al-Arqo kemudian Hogere Muhammadijah School, kemudian Kweekschool Islam dan menjadi Kweekschool Muhammadijah.

Nama Kweekschool muncul dalam pikiran KH Ahmad Dahlan setelah kunjungannya dari Katholieke Kweekschool di Muntilan (Sejarah Muhammadiyah, tt). Pada mulanya sekolah ini bertempat di Kauman. Kemudian pindah ke Ketanggungan Wirobrajan (sekarang Jl. Letjend. S. Parman 68). Pada tahun 1952, Comite Ara-ara melaporkan telah berhasil mendirikan bangunan permanen sekolah meliputi ruang kelas, masjid, rumah direktur dan sebagainya (Soeara Muhammadijah, 1952).

Perubahan nama menjadi Madrasah Mu’allimin Muhammadijah terjadi pada tahun 1941 berdasar hasil kongres Muhammadyah ke-23 19-25 Juli 1934 di Yogyakarta (Soeara Muhammadijah, 1941). Nama Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta dipergunakan hingga sekarang. Perubahan nama ini bermula dari kritik para warga Muhammadiyah, mengapa harus memakai nama sekolah Belanda; Kweekschool, padahal ijazahnya dan kurikulumnya jelas berbeda.

Pada mulanya, sekolah ini didirikan dengan tujuan untuk mencetak muballigh, guru, dan pemimpin Muhammadiyah. Awalnya sekolah ini lebih mirip sebagai pesantren dengan mengadopsi sistem dan metode pendidikan modern. Namun setelah berubah menjadi Hogere Muhammadijah School, kurikulumnya ditambah dengan pelajaran ilmu sekuler/umum.

Materi kurikulum sekolah yang meliputi ilmu agama dan ilmu sekuler/umum menjadi satu wujud cita-cita dan eksperimen KH Ahmad Dahlan untuk mendamaikan dua kutub ilmu tersebut dalam sistem pendidikan Muhammadiyah. Versi lain menyebutkan bahwa latar belakang pendirian al-Qismu al-Arqo sangat sederhana. Sekolah ini didirikan menjawab tuntutan para alumnus Sekolah Rakyat (sekolah ongko loro) Muhammadiyah yang tidak bisa melanjutkan ke sekolah guru milik gubernemen. Informasi ini diperkuat oleh artikel dalam Soeara Muhammadijah terbitan Januari 1922 yang menyebutkan al-Qismu al-Arqo sebagai sekolah kelanjutan sekolah kelas dua (ongko loro). Muhammadiyah beberapa kali mengajukan permohonan persamaan ijazah dengan rekomendasi Boedi Oetomo, namun tidak juga diterima. Akhirnya KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1918 mendirikan Madrasah al-Qismu al-Arqo sehingga para alumnus sekolah rakyatnya bisa melanjutkan sekolah. Di samping itu, mereka juga dapat membantu mengajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang lain.

Menjadi Sekolah Kader Muhammadiyah

Tamatan-tamatan Kweekschool Islam/Muhammadijah ini kemudian menyebar, mengajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah terutama di Jawa. Tidak ada dokumen yang menyebutkan spesialisasi ilmu yang mereka ajarkan. Keterbatasan sumber daya manusia mengakibatkan tidak adanya spesialisasi keilmuan para guru di lembaga-lembaga pendidikan Islam masa itu (Boland, 1982). Tamatan-tamatan Kweekschool Muhammadijah ini mengajar semua mata pelajaran yang ada, baik ilmu agama seperti Tafsir, Hadits, Fiqih maupun ilmu umum/sekuler seperti ilmu bumi, ilmu hayat, falak/hisab dan lain sebagainya. Namun warna pesantren masih terlihat lebih kental dengan porsi pendidikan keagamaan yang lebih banyak.

Peran para alumnus ini ternyata tidak hanya mengajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang baru berdiri. Mereka ternyata juga aktif dalam dakwah Islam dan pengembangan masyarakat khususnya dalam cabang-cabang Muhammadiyah. Kiprah mereka dalam perkembangan awal Muhammadiyah menempatkan Muallimin menjadi pusat pendidikan generasi mudanya. Dapat disimpulkan, bahwa sebenarnya predikat Sekolah Kader Muhammadiyah pada diri Mu’allimin tidak bersangkut paut dengan cikal bakal pendiriannya. al-Qismu al-Arqo didirikan sebagai sekolah calon guru dan muballigh Muhammadiyah (Sejarah Muhammadiyah, tt). Konsep Kader Muhammadiyah tidak tampak dalam al-Qismu al-Arqo. Orientasi al-Qismu al-Arqo jelas untuk memenuhi tuntutan kebutuhan guru dan muballigh Muhammadiyah dari cabang-cabang Muhammadiyah di Hindia-Belanda.

Predikat Sekolah Kader Muhammadiyah ini kemungkinan baru muncul setelah para alumnusnya mampu mewarnai corak pergerakan Muhammadiyah baik di Yogyakarta maupun di cabang-cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta. Pengakuan ini ditandai dengan salah satu keputusan Kongres Muhammadiyah ke-28 di Medan yang mengamanatkan kepada Hoofdbestur Muhammadijah untuk mengelola secara resmi madrasah ini (Sejarah Muhammadiyah, tt). Amanat kongres ini menempatkan Mu’allimin dalam posisi penting dan strategis dalam sistem pengkaderan Muhammadiyah.

Madrasah Muallimin Muhammadiyah kemudian berkembang dan berdiri di daerah-daerah lain di Indonesia, seperti: Solo, Ponorogo, Pekalongan, Bogor, Bandung, Watukebo (Jember), dan sebagainya.

Muallimin sekarang

Kemudian pada tahun 1987, di bawah kepemimpinan Drs. H. Sri Satoto, dilakukanlah resistematisasi kurikulum. Tujuannya agar proses pendidikan dan pengajaran dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna. Sehubungan dengan itu, pengembangan Mu’allimin dilajutkan lagi dengan kebijakan untuk merekayasa suatu paket terpadu yang menyangkut materi bidang studi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dengan teknik kurikulum silang (crossing curriculum), yakni memadukan materi GBPP Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Departemen Agama Republik Indonesia dengan materi Mu’allimin yang merujuk kepada referensi “kitab kuning”. Proses terakhir inilah yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Tentu saja, dalam rangka memperoleh hasil yang sempurna, evaluasi dan revisi (perbaikan) terus menerus dilakukan terhadap materi bidang studi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Ketika Muallimin membuka jurusan Keagamaan dalam program pendidikan Aliyah pada tahun pendidikan 1996/1997, antara lain untuk mengimbangi program MAN PK (Pendidikan Keagamaan) yang digagas dan dicanangkan oleh Menteri Agama RI waktu itu, Prof. Drs. H. Munawir Sjadzali, M.A., maka Muallimin pun mempertegas orientasi program pendidikannya dengan memberikan peluang sebesar-besarnya kepada para siswanya untuk melanjutkan studi ke berbagai Perguruan Tinggi Agama dan Umum, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Program pendidikan yang dimaksud terbagi dua, yaitu pertama, Madrasah Aliyah Umum (MAU) jurusan IPA dan IPS, serta kedua, Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK).
Direktur-direktur Muallimin
* KH Ahmad Dahlan
* KH Siradj Dahlan (I)
* KH R. Hadjid
* KH Siradj Dahlan (II)
* KH Mas Mansyur (Direktur Kehormatan)
* KH A. Kahar Muzakkir
* KH Aslam Zainuddin
* KH Djazari Hisyam
* H. Mhd. Mawardi (I)
* H. Amin Syahri
* H. Mhd. Mawardi (II)
* H. MS Ibnu Juraimy
* Drs. H. Sri Satoto
* Drs. H. Hamdan Hambali
* Drs. H. Zamzury Umar, M.Pd
* Muhammad Ikhwan Ahada, S.Ag

Sumber : Wikipedia